logo asesme

Apa Itu Tes MSDT? Gaya Kepemimpinan Model 3-D Reddin

Diposting 27 Oktober 2026 - Tim Asesme

Dua orang bisa sama-sama pintar secara teknis, tetapi satu menjadi atasan yang membuat tim berkembang dan yang lain membuat tim lelah. Selisihnya sering bukan di kemampuan, melainkan di gaya memimpin dan kecocokannya dengan situasi. MSDT (Management Style Diagnostic Test) adalah salah satu alat yang dipakai untuk memetakan gaya itu. Artikel ini menjelaskan apa itu MSDT, bagaimana cara kerjanya, arti delapan gayanya, cara membaca hasilnya, dan batasan yang perlu HR ketahui.

Daftar Isi

  1. Apa Itu MSDT?
  2. Dasar Teori: Model 3-D Reddin
  3. Cara Kerja Tes: 64 Pasang Pernyataan
  4. Delapan Gaya Kepemimpinan MSDT
  5. Cara Membaca Hasil MSDT
  6. Contoh Kasus: Memilih Supervisor Produksi
  7. Pertanyaan Wawancara per Gaya
  8. Kapan MSDT Berguna untuk HR
  9. Batasan yang Perlu Diperhatikan
  10. Kesimpulan

Apa Itu MSDT?

MSDT adalah tes untuk memetakan gaya manajerial seseorang: bagaimana ia cenderung mengarahkan pekerjaan, memperlakukan orang, dan mengejar hasil. Tes ini berpijak pada teori 3-D Management Style yang dikembangkan W. J. Reddin. Pesertanya tidak diminta menilai kemampuan, melainkan memilih pernyataan yang paling menggambarkan kebiasaannya saat bekerja.

Hasil akhirnya adalah satu dari delapan gaya, disertai tiga angka dimensi yang menjelaskan bagaimana gaya itu terbentuk.

Dasar Teori: Model 3-D Reddin

Banyak teori kepemimpinan klasik memakai dua sumbu: orientasi pada tugas dan orientasi pada hubungan. Dari dua sumbu itu lahir empat gaya dasar. Reddin menambahkan sumbu ketiga, yaitu efektivitas. Gagasan intinya: gaya dasar yang sama bisa berhasil di satu situasi dan gagal di situasi lain. Karena itu setiap gaya dasar punya dua versi, satu yang lebih efektif dan satu yang kurang efektif.

  • TO (Task Orientation): Seberapa kuat pemimpin mengarahkan dan mengendalikan pekerjaan demi tujuan.
  • RO (Relationship Orientation): Seberapa kuat pemimpin membangun hubungan kerja dan kepercayaan dengan orang lain.
  • E (Effectiveness): Seberapa tepat gaya itu dipakai sehingga menghasilkan dampak yang diharapkan.

Dengan begitu, MSDT tidak bertanya "apakah Anda pemimpin yang baik?", tetapi "gaya apa yang Anda pakai, dan seberapa efektif cara Anda memakainya?".

Cara Kerja Tes: 64 Pasang Pernyataan

Peserta menjawab 64 pasang pernyataan. Pada setiap pasangan, ia memilih satu pernyataan (A atau B) yang lebih sering menggambarkan dirinya. Karena harus memilih salah satu, peserta sulit menjawab "ideal" untuk semua butir. Pilihan paksa ini mengurangi kecenderungan menjawab asal terlihat baik.

Jawaban kemudian dihitung menjadi skor untuk delapan gaya. Dari situ diturunkan tiga dimensi (TO, RO, dan E) yang dikonversi ke skala 0–4, di mana nilai di atas 2 dibaca tinggi. Gaya akhir ditentukan dari kombinasi ketiganya, bukan sekadar dari skor gaya yang paling besar.

Delapan Gaya Kepemimpinan MSDT

Tabel berikut merangkum delapan gaya. Perhatikan bahwa setiap gaya dasar punya "kembaran" yang lebih efektif dan yang kurang efektif.

GayaKelompokGambaran
Deserter (Ds)Kurang efektif · pendekatan terpisahCenderung menghindari masalah dan tanggung jawab, menjaga jarak dari keterlibatan.
Bureaucrat (Bu)Lebih efektif · pendekatan terpisahPatuh pada aturan dan prosedur, sistematis, nyaman dengan struktur yang jelas.
Missionary (Mi)Kurang efektif · pendekatan berhubunganMenjaga suasana tetap menyenangkan, tetapi sulit bersikap tegas dan menghindari konflik.
Developer (Dv)Lebih efektif · pendekatan berhubunganPercaya pada bawahan, mendelegasikan, dan mengembangkan potensi orang.
Autocrat (Au)Kurang efektif · pendekatan berdedikasiFokus pada hasil dan kontrol ketat, sulit menoleransi penyimpangan.
Benevolent Autocrat (Ba)Lebih efektif · pendekatan berdedikasiTegas dan terstruktur, tetapi komunikatif dan adil kepada bawahan.
Compromiser (Co)Kurang efektif · pendekatan terpaduPeduli tugas dan hubungan, tetapi mudah berkompromi sehingga keputusan tidak jelas.
Executive (E)Lebih efektif · pendekatan terpaduMemadukan tugas dan hubungan: konsultatif, melibatkan tim, dan berorientasi hasil.

Pola yang mudah diingat: Executive adalah versi efektif dari Compromiser, Benevolent Autocrat dari Autocrat, Developer dari Missionary, dan Bureaucrat dari Deserter.

Cara Membaca Hasil MSDT

  • 1. Lihat gaya akhirnya dulu: Catat gaya dan apakah termasuk kelompok lebih atau kurang efektif. Ini gambaran umum, belum kesimpulan.
  • 2. Baca tiga dimensi: TO dan RO menjelaskan arah gaya (menekankan tugas, hubungan, keduanya, atau tidak keduanya). E menjelaskan seberapa tepat gaya itu dijalankan.
  • 3. Perhatikan E yang rendah: E rendah pada gaya yang secara dasar cocok untuk posisi adalah sinyal untuk digali: kandidat mungkin tahu arahnya, tetapi cara menjalankannya kurang tepat.
  • 4. Cocokkan dengan tuntutan situasi: Tanyakan: lingkungan kerjanya seperti apa? Tim baru atau senior? Pekerjaannya terstruktur atau berubah-ubah? Gaya yang sama bisa pas di satu tim dan keliru di tim lain.
  • 5. Ubah temuan menjadi pertanyaan wawancara: Misalnya untuk hasil Autocrat: “Ceritakan saat anggota tim tidak setuju dengan arahan Anda. Apa yang Anda lakukan?” Hasil tes adalah hipotesis yang perlu dikonfirmasi lewat contoh perilaku nyata.

Contoh Kasus: Memilih Supervisor Produksi

Ilustrasi hipotetis, bukan data kandidat nyata. Sebuah pabrik mencari supervisor untuk lini yang baru dibuka. Timnya berisi operator yang rata-rata baru bekerja kurang dari setahun, target harian ketat, dan kesalahan prosedur berdampak pada keselamatan.

  • Kandidat A: Benevolent Autocrat (TO tinggi, RO rendah, E tinggi): Tegas, terstruktur, dan adil. Cocok untuk tim baru yang butuh arahan jelas dan standar keselamatan yang konsisten. Yang perlu digali: seberapa baik ia mulai melepas kendali ketika timnya sudah mahir.
  • Kandidat B: Developer (TO rendah, RO tinggi, E tinggi): Piawai mengembangkan orang dan mendelegasikan, tetapi pada tim yang baru dan target ketat, arahan yang terlalu longgar berisiko. Lebih cocok untuk tim yang sudah berpengalaman. Yang perlu digali: bagaimana ia menjaga disiplin prosedur.
  • Kandidat C: Autocrat (TO tinggi, RO rendah, E rendah): Gaya dasarnya mirip Kandidat A, tetapi dijalankan terlalu keras. Tim baru bisa tertekan dan takut melapor kesalahan, padahal pelaporan dini penting untuk keselamatan. Perlu didalami lewat contoh perilaku nyata sebelum dipertimbangkan.

Perhatikan bahwa A dan C sama-sama berorientasi tugas. Perbedaannya ada di dimensi E, yaitu cara gaya itu dijalankan. Inilah nilai tambah model 3-D dibandingkan model dua sumbu biasa. Perhatikan juga bahwa jawabannya berubah jika timnya senior: pada tim berpengalaman, Kandidat B justru bisa menjadi pilihan terbaik. Karena itu, keputusan tetap perlu dilengkapi wawancara dan referensi kerja.

Pertanyaan Wawancara per Gaya

Gunakan pertanyaan berbasis perilaku ("ceritakan saat...") untuk menguji hipotesis dari hasil MSDT. Beberapa contoh:

  • Deserter: “Ceritakan saat ada masalah di tim yang bukan kesalahan Anda. Apa yang Anda lakukan?”
  • Bureaucrat: “Ceritakan saat prosedur yang berlaku ternyata menghambat hasil. Bagaimana Anda menyikapinya?”
  • Missionary: “Ceritakan saat Anda harus menolak permintaan anggota tim atau memberi umpan balik yang tidak menyenangkan.”
  • Developer: “Tugas apa yang terakhir Anda delegasikan, dan bagaimana Anda memastikan hasilnya tetap sesuai standar?”
  • Autocrat: “Ceritakan saat anggota tim tidak setuju dengan arahan Anda. Apa yang Anda lakukan dan bagaimana hasilnya?”
  • Benevolent Autocrat: “Kapan terakhir kali Anda mengubah keputusan setelah mendengar masukan tim?”
  • Compromiser: “Ceritakan keputusan sulit yang membuat sebagian pihak kecewa. Bagaimana Anda mengambilnya?”
  • Executive: “Ceritakan saat Anda harus mencapai target sambil menjaga semangat tim. Apa yang Anda korbankan dan apa yang Anda pertahankan?”

Kapan MSDT Berguna untuk HR

  • Seleksi posisi yang memimpin orang: Supervisor, kepala bagian, atau manajer. Gunakan sebagai pelengkap tes kemampuan dan wawancara, bukan penyaring tunggal.
  • Promosi dan suksesi: Melihat kesiapan gaya calon pemimpin internal dibandingkan tuntutan posisi berikutnya.
  • Pengembangan pemimpin: Menjadi dasar diskusi coaching: gaya apa yang dominan dan kapan perlu disesuaikan.
  • Pembentukan tim: Memahami kombinasi gaya dalam tim pimpinan agar tidak ada gaya yang terlalu mendominasi.

Di Asesme, MSDT juga bisa dipasangkan dengan Profil Gaya Jabatan: HR dan atasan langsung menilai gaya yang dituntut sebuah jabatan, lalu laporan menunjukkan seberapa sesuai gaya MSDT kandidat dengan tuntutan itu. Keduanya berlabel indikatif dan dimaksudkan sebagai bahan diskusi.

Batasan yang Perlu Diperhatikan

  • Laporan diri sendiri: MSDT mengukur gaya yang dilaporkan peserta, bukan perilaku yang sudah teramati. Peserta yang paham teorinya bisa menjawab sesuai citra yang ia inginkan.
  • Bukan prediktor kinerja tunggal: Gaya yang efektif sangat bergantung pada konteks, sehingga tidak ada gaya yang otomatis menjamin kinerja.
  • Norma dan validasi: Interpretasi di Asesme merupakan ringkasan dari teori dan materi MSDT, belum disertai norma populasi Indonesia yang dibakukan. Gunakan sebagai indikasi, dan libatkan psikolog untuk keputusan penting.
  • Bukan diagnosis: Walaupun bernama Diagnostic Test, hasilnya menggambarkan gaya kerja, bukan kondisi klinis atau kepribadian secara menyeluruh.

Kesimpulan

MSDT membantu HR menjawab pertanyaan yang sering terlewat saat menilai calon pemimpin: bukan hanya "seperti apa gayanya", tetapi "apakah gaya itu efektif untuk situasi yang akan ia hadapi". Pakai hasilnya untuk menyusun hipotesis, memandu wawancara, dan merancang pengembangan, lalu padukan dengan data lain sebelum mengambil keputusan.

Skoring MSDT Otomatis untuk Tim HR

Di Asesme, MSDT langsung terskor lengkap dengan gaya akhir, dimensi TO/RO/E, dan masuk ke laporan komparatif serta Universal Report. Tambahkan Profil Gaya Jabatan untuk melihat kesesuaian kandidat dengan tuntutan posisi.

Artikel Terkait