Uji Validitas dan Reliabilitas untuk Skripsi: Panduan Praktis dan Cara Interpretasi
Diposting 15 Oktober 2026 - Tim AsesmeHampir setiap skripsi dengan kuesioner akan ditanya hal yang sama saat sidang: "Instrumen ini valid dan reliabel dari mana buktinya?" Jawabannya ada di dua uji, validitas dan reliabilitas. Berikut cara mengerjakannya, apa arti angkanya, dan di mana orang biasanya tersandung.
Daftar Isi
Validitas: r hitung dan r tabel
Ide dasarnya sederhana: kalau sebuah butir mengukur hal yang sama dengan butir-butir lain dalam variabelnya, skornya akan bergerak searah dengan skor total. Kekuatan hubungan itu diukur dengan korelasi Pearson, dan hasilnya disebut r hitung.
Butir dinyatakan valid kalau r hitung lebih besar dari r tabel. Nilai r tabel bergantung pada jumlah responden (derajat bebas n - 2). Banyak orang memakai skor total yang sudah dikurangi butir itu sendiri (corrected item-total), supaya butir tidak ikut menaikkan korelasinya sendiri. Cara ini sama dengan keluaran SPSS.
Reliabilitas: Cronbach's Alpha
Reliabilitas bertanya apakah butir-butir dalam satu variabel konsisten satu sama lain. Hitung per variabel, bukan sekaligus untuk seluruh kuesioner, karena variabel yang berbeda memang tidak perlu berkorelasi tinggi. Batas yang umum dipakai 0,60 atau 0,70. Tanyakan ke dosen pembimbing mana yang dipakai, sebab ini berbeda antarkampus dan antarbidang.
Urutan pengerjaan
- Siapkan data uji coba: Ambil dari responden yang mirip dengan populasi penelitian. Jumlahnya cukup besar supaya r tabel tidak terlalu longgar.
- Kelompokkan butir per variabel: Dan balik dulu skor butir yang bernada negatif.
- Hitung r hitung dan Alpha: Bisa di SPSS, atau lewat alat uji validitas online kami tanpa memasang apa pun.
- Buang butir yang tidak valid, lalu hitung ulang: Alpha sering ikut berubah setelah butir dibuang, jadi laporkan angka setelah perbaikan.
Kalau mau langsung mencoba, buka alat uji validitas dan reliabilitas online. Unggah file dari Google Forms, dan tabel untuk Bab IV muncul beserta interpretasinya.
Tempat orang sering tersandung
Yang paling sering adalah lupa membalik butir negatif. Akibatnya korelasi jadi negatif dan Alpha anjlok, padahal instrumennya baik-baik saja. Berikutnya, menghitung Alpha untuk semua butir sekaligus, dan memakai sampel uji coba yang terlalu kecil sehingga hasilnya berubah drastis saat responden bertambah.